Saking Ngantuknya, Mustafa Minum Tinta Pemilu Yang Dikira Kopi

Kakek peminum tinta yang dikira kopi (Okezone)
28 Juni 2018 08:00 WIB Newswire Viral Share :

Solopos.com, PONTIANAK -- Seorang kakek di Pontianak meminum tinta Pemilu yang dikiranya kopi. Ini terjadi karena Mustafa, 61, ngantuk berat. Sehari sebelum pencoblosan semua petugas di tempat pemungutan suara (TPS) 171 daerah melakukan beragam persiapan.Alhasil cukup banyak petugas TPS yang kurang tidur.

Salah satunya di TPS di mana Mustafa bertugas yakni TPS 01, Kelurahan Sungai Jawi Luar, Pontianak Barat, Kalimantan Barat. Sakit ngantuknya karena semalaman bertugas, Mustafa yang merupakan anggota Linmas meminum tinta untuk mencelup jari seusai mencoblos.

"Iya saya tak sengaja minum tinta. Ada satu teguklah," ujar pria 61 tahun ini kepada Okezone saat ditemui tengah berjaga di TPS 01, Rabu (27/6/2018).

Warga Gang Bunut, Pontianak Barat ini mengaku tak sengaja minum tinta tersebut sekitar pukul 11.00 WIB. Kala itu, kondisi TPS tengah padat pemilih. "Saya kantuk, lalu pingin minum kopi. Gelas kopi di samping wadah (bekas mineral gelas) yang berisi tinta. Karena saya kantuk dan sambil pandang ke jalan, ada pemilih yang datang, saya terpegang wadah tinta. Lalu terminum lah. Ada seteguk," jelas dia.

Setelah tertelan, Mustafa baru menyadari rasa pahit itu bukan kopi. Melainkan tinta yang mengandung 40 persen alkohol, 3-4 persen silver nitrat, 2 persen gentian violet, 35 persen IPA dan aquades 25 persen. "Saya langsung muntahkan sebisa mungkin. Berludah terus. Mungkin ada ratusan kali. Selama berludah, air liur saya warna biru," paparnya.

Setelah menelan tinta, Mustafa mengaku, badannya langsung gemetaran. Ia kemudian diberi asupan gizi dari makanan oleh petugas TPS lainnya, agar segera pulih. "Sekarang saya batuk-batuk. Mau berobat, untuk sementara belum ada uang," ucapnya.

Buruh bangunan ini mengaku, sudah enam kali menjadi anggota Linmas di TPS pada setiap pemilihan. Namun, baru kali ini ia tak sengaja minum tinta. Terlihat di sekujur tubuhnya penuh dengan bercak tinta. "Intinya saya tak tidur berjaga. Kalau kita tidur, itu bukan kerja namanya," pungkas Tafa, sapaan kakek ini.

Tokopedia