Soesilo Toer, Adik Pramoedya Ananta Toer Jadi Pemulung

Soesilo Toer (Youtube)
14 Juli 2018 02:10 WIB Chelin Indra Sushmita Viral Share :

Solopos.com, SOLO – Roda kehidupan selalu berputar. Pepatah bijak itu sangat pas untuk menggambarkan kehidupan Soesilo Toer yang tak lain adalah adik penulis Pramoedya Ananta Toer. Di usia senja yang memasuki 81 tahun, dia masih semangat mencari rezeki dengan memunguti barang-barang bekas bernilai jual di tanah kelahirannya, Blora, Jawa Tengah.

Mungkin memang tidak banyak tahu jika pria kelahiran 17 Februari 1937 itu adalah adik kandung almarhum Pramoedya Ananta Toer. Kakak dari Soesilo Toer merupakan sastrawan dan penulis yang kiprahnya diperhitungkan dunia. Tapi, siapa sangka kehidupan adik Pram—sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer—justru memprihatinkan.

Seosilo Toer merupakan orang yang berpendidikan tinggi. Dia menyandang gelar master dan doktor bidang politik dari universitas bergengsi Rusia. Dia mendapat gelar master dari Universitu Patrice Lumumba serta doktor dari Institute Perekonomian Rakyat Plekhanov. Semua ijazah dan piagam penghargaan itu masih disimpan rapi. Namun, gelar bergengsi itu seolah tidak ada gunanya bagi kehidupan saat ini.

Kini, Soesilo Toer justru menjadi pemulung di Blora, Jawa Tengah. Setiap malam, dia mengelilingi Kota Blora untuk memulung barang bekas, mulai dari botol bekas, kardus, koran, dan sampah lainnya. Semua pekerjaan itu dilakukan dengan gembira menaiki sepeda motor bebek pemberian keponakannya.

Meski usianya sudah tua, semangat Soesilo Toer masih seperti anak muda. Dia bahkan tidak mau dipanggil kakek. Dia lebih suka dipanggil dengan sapaan bro. Soesil Toer menceritakan kehidupannya yang kini menjadi pemulung untuk menyambung hidup melalui talkshow Hitam Putih Trans TV yang dipandu Deddy Corbuzier, Selasa (10/7/2018).

"Apa hubungannya ijazah dengen pekerjaan. Saya memulung karena ingat kisah Socrates yang memilih bunuh diri dengan caranya sendiri, yakni minum racun puhon cemara, saat dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Yunani. Socrates berkata, kenalilah dirimu, karena kematian adalah kebahagiaan abadi. Saya ambil kalimat itu dan saya balik, kenalilah diriku, karena memulung adalah kenikmatan abadi buat saya," kata Soesilo Toer.

Soesilo Toer sering mendapatkan komentar miring tentang profesinya. Namun, dia sama sekali tidak terganggu dengan kritikan tersebut. "Buat apa malu, yang terpenting adalah bagaimana pekerjaan itu punya nilai lebih. Saya sudah banya diejek orang, tapi seolah itu sudah tawar bagi saya. Setinggi apapun pangkat Anda, jika tidak punya nilai lebih ya percuma," sambung Soesilo Toer.

Soesilo Toer menerangkan jika dirinya sebanarnya adalah warga negara Belanda. Sebab, menurut peraturan yang berlaku zaman kolonial dulu, semua orang yang lahir sebelum tahun 1949 secara hukum adalah warga negara Belanda.

"Sudah banyak orang yang menawari saya bekerja di Belanda. Tapi, saya memilih Indonesia. Karena saya patuh pada perjanjian saat saya ke luar negeri. Tapi, saat saya pulang paspor dicabut karena dianggap membela orde lama. Padahal saya anak buahnya Pak Harto. Pada saat pembebasan saya adalah seorang Letnan Batalyon serbaguna. Seharusnya saya dapat jabatan, malah dibui," sambung Soesilo Toer.

Tapi, Soesilo Toer sama sekali tidak dendam. Dia merasa kehidupannya sekarang sangat bahagia dan penuh kenikmatan. Pria yang menguasai bahasa Inggris, Jerman, Belanda, dan Rusia, itu telah menulis beberapa buku. Dia bercita-cita membuka museum untuk memamerkan barang koleksinya.

"Saya sudah kumpulkan ratusan sendok dan garpu di rumah. Suatu saat saya akan membuka museum bahwa saya pemulung internasional," kelakarnya.

 

Tokopedia