Amiruddin Jalan Kaki 2.961 Km dari Mandailing ke Banyuwangi Demi Sujud di Kaki Ibu

Anggota Kumpulan Wong Sragen (KWS) menemui Amiruddin (keempat kanan), pejalan kaki dari Serdang Bedagai Sumatra Utara menuju Banyuwangi Jawa Timur sesampainya di Taraman, Sidoharjo, Sragen, Sabtu (12/1 - 2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
13 Januari 2019 07:00 WIB Moh Khodiq Duhri Viral Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Aksi yang dilakukan Amiruddin, 44, terbilang nekat. Dia rela berjalan kaki dari rumahnya di Kampung Mandailing, Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara, menuju rumah ibu kandungnya di Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.

Lewat aplikasi maps di smartphone, diketahui jarak antara Kabupaten Serdang Bedagai dengan Banyuwangi mencapai 2.961 km. Jarak itu bisa ditempuh dalam waktu 58 jam perjalanan darat dengan kendaraan dengan catatan tidak terhalang kemacetan lalu lintas.

Perjalanan Amir, panggilan Amiruddin, dimulai pada 20 November 2018 lalu dan pada Sabtu (12/1/2019) dia sampai di Sragen. Selama hampir dua bulan itu, Amir yang berstatus bujang sudah menempuh perjalanan sejauh 1.786 km. Perjalanan yang cukup panjang untuk ditempuh dengan jalan kaki.

Saat ditemui solopos.com di kawasan Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Sabtu, Amir menyempatkan waktu untuk mengobrol barang sebentar. Ia bercerita sambil menyeruput sebungkus teh hangat pemberian warga yang dijumpainya di jalan. Nasi bungkus lengkap dengan lauk tempe goreng dan ikan asin ia bawa sebagai bekal makan siangnya. Nasi bungkus itu juga pemberian dari warga sekitar.

"Jalan kaki dari Serdang Bedagai menuju Banyuwangi ini adalah nazar saya. Saya sudah tujuh bulan lumpuh. Waktu mau Salat Subuh, kaki saya tiba-tiba tidak bisa diangkat. Kata dokter itu gejala tulang keropos. Padahal usia saya masih 44 tahun," kata Amir membuka pembicaraan.

Kelumpuhan itu benar-benar menjadi pukulan telak bagi Amir. Namun, ia berusaha mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang dialaminya. Dia menganggap penyakit lumpuh itu adalah teguran dari Allah kepadanya yang kerap meninggalkan perintah dan mendekati larangan.

"Saya ini banyak dosa. Saat warga lain ikut Jumatan, saya malah asyik mabuk sama teman-teman. Salat masih bolong-bolong. Saya anggap lumpuh itu sebagai teguran. Justru setelah lumpuh saya jadi rutin salat malam. Sebelum lumpuh malah tidak sama sekali," papar Amir.

Sebuah keajaiban terjadi memasuki bulan ketujuh sejak Amir mengalami kelumpuhan. Malam itu, Amir menunaikan Salat Tahajud. Dalam doanya, Amir bernazar akan berjalan kaki menuju rumahnya ibunya di Banyuwangi jika ia diberi kesembuhan. Ia ingin sujud di kaki wanita yang telah melahirkannya. 

Sebagai anak, ia merasa punya banyak salah dengan ibunya. "Malam saya bernazar itu, tiba-tiba paginya saya bisa mengangkat kaki untuk jalan. Pelan-pelan saya bisa berjalan normal. Sejak saat itu, saya sudah menyusun rencana untuk menepati nazar saya," ungkap Amir.

Dari rumah, ia hanya membawa dua pasang baju ganti. Satu pasang ia kenakan, satu pasang ia taruh di dalam tas. "Saya benar-benar tidak bawa uang sepeser pun. Tapi, tekat saya sudah bulat. Saya punya niat baik, saya pasrah. Hidup mati ada di tangan Allah," ucapnya tegas.

Meski tidak membawa bekal, ada saja orang memberinya makan atau uang meski dia tidak pernah meminta. Namun, tidak semua orang yang dijumpainya selalu bersikap baik. Sesampainya di Riau, ia menemukan sebuah dompet di jalan.

Dipalak Preman

Ia merasa terpanggil untuk mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya sesuai alamat yang tertera di kartu identitas di dalamnya. Namun, siapa sangka, ia malah dituduh sebagai pencopet dompet tersebut. Sesampainya di Bandar Lampung, ia dua kali dipalak oleh preman dan dipukuli.

Sesampainya di Pelabuhan Bakauheni Lampung, Amir tak punya uang untuk membeli tiket kapal menyeberangi Selat Sunda ke Pulau Jawa. "Alhamdulillah, di luar dugaan pertolongan Allah datang lagi. Saya dibantu sama seorang polisi. Dia membawa saya menyeberangi lautan secara gratis," ujarnya.

Selama berada di perjalanan, Amir selalu menginap di SPBU yang dilintasinya. Ia sempat menginap di emperan warung makan yang sudah tutup di kawasan Lampung. Menurutnya, menginap di SPBU cenderung lebih aman daripada menginap di tempat lain. a.

Meski tidak paham apa itu internet dan tak punya ponsel, Amir merasakan dampak positif dari media sosial. Dia tidak menyangka, kegiatannya berjalan kaki dari Sumatera Utara menuju Jawa Timur itu menjadi topik perbincangan hangat di media sosial.

"Awalnya ada orang datang, ambil foto saya lalu mengobrol. Setelah itu, saya heran tiba-tiba kok banyak sekali orang baik yang datang. Terutama setelah saya memasuki kawasan Jawa Tengah. Waktu saya jalan sendiri, tiba-tiba dipanggil orang lalu diberi uang. Waktu saya jalan, tiba-tiba ada mobil berhenti dan mengulurkan uang. Saya benar-benar tidak menyangka, ada banyak orang baik yang menjadi kepanjangan tangan Allah," ucapnya.

Kedatangan Amir di wilayah Sragen memang sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial, terutama di grup Facebook, Kumpulan Wong Sragen (KWS). Amir sempat menginap di SPBU Karangasem Tanon pada Jumat (11/1/2019) malam. Di sana ia, banyak mendapat tamu, terutama dari anggota KWS.

Pada Jumat siang, ia melanjutkan perjalananan. Lantaran turun hujan, ia singgah di SPBU Gabugan, Tanon. Di sana ia bermalam ditemani anggota KWS.

"Perjalanan Pak Amir ini sudah viral di media sosial sebelum sampai Sragen. Saya sempat mencari keberadaan Pak Amir di Pungkruk dan Masjid Raya, tapi ketemunya di SPBU Gabugan. Semalam saya menemani dia sampai pukul 03.30 WIB. Saya sudah berkoordinasi dengan komunitas warga Ngawi. Mereka siap menyambut kedatangan Pak Amir," ujar Edi Ariyanto, anggota KWS asal Kedungupit, Sragen.